green
Akhir-akhir ini saya sedang tertarik belajar mengenai komunikasi visual, bagaimana sih caranya biar orang lain tuh paham walau hanya dengan melihat.
Filed under: Photoshop , Disain Komunikasi Visual
November 30, 2008 • 8:58 pm 7
green
Akhir-akhir ini saya sedang tertarik belajar mengenai komunikasi visual, bagaimana sih caranya biar orang lain tuh paham walau hanya dengan melihat.
Filed under: Photoshop , Disain Komunikasi Visual
• 9:11 am 1
Alhamdulillah, segala puji hanya milik Alloh rabb semesta alam yang paling berhak memerintah dan melarang. Pada kalimat sebelum kalimat ini saya mencoret kata “paling” karena hanya Alloh yang berhak memerintah dan melarang dalam sisi syari’at Islam, sedangkan jika ada tambahan kata “Paling” maka seolah ada tandingan selain Alloh yang berhak memerintah dan melarang.
Mungkin sebagian dari kita, termasuk saya, masih kurang mengerti seberapa jauh sih.. akal ini dapat menerima dalil (Al Qur’an dan Hadits) atau mungkin kita masih bertanya-tanya kenapa sih.. dalil kok bertentangan dengan akal kita. Dalam tulisan ini insya Alloh saya akan menyampaikan tulisan yang telah di tulis oleh Ustadz Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat semoga Alloh menjaga beliau.
Qawaa-’idusy Syara’
(Kaidah-Kaidah Agama)
Pertama:
Di dalam Islam di kenal adanya dua macam dalil :
Kedua:
Dari keterangan di atas timbul sebuah masalah: Manakah yang harus lebih di dahulukan, antara “Dalil Naqliyyah” dan “Dalil ‘Aqliyyah”?
Jawabannya sudah dapat di pastikan adalah dalil naqliyyah-lah yang harus lebih di dahulukan, sebab dalil naqliyyah itulah yang datang lebih dahulu, baru kemudian dalil ‘aqliyyah datang mengikutinya. Yang seolah-olah hanya sebagai pembantu dalam menjelaskan, mencerna dengan baik terhadap dalil naqliyyah.
Saya memiliki sebuah contoh :
Misal ketika seseorang hendak melaksanakan sholat, kemudian kita berhadats ringan (mengeluarkan angin) mengapa ketika ber-wudhu kembali untuk melaksanakan sholat, bagian yang dibasuh dan terkena oleh air wudhu adalah bagian yang tidak mengeluarkan angin? seperti tangan, mulut dan hidung, wajah, kepala, kemudian kaki.., padahal menurut akal kan seharusnya yang di basuh dan terkena air wudhu adalah bagian yang mengeluarkan angin!
Jawabannya adalah, karena Alloh telah memerintahkan hal tersebut seperti yang telah Alloh Subhanaahu wa Ta’ala firmankan di dalam surat Al Maa’idah ayat 6 yang artinya sebagai berikut:
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan sholat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki.”
Demikian Alloh memerintahkan kita, untuk lebih jelas mengenai tata cara ber-wudhu bisa di temukan di dalam hadits sebagai penjelasan dari firman Alloh tersebut.
Karena pada hakikatnya akal hanya digunakan untuk mencerna dalil naqliyyah, sungguh tidak pantas jika kita menolak apa-apa yang datang dari Alloh Subhanaahu wa Ta’ala dan Rasulnya Shallallohu ‘alaihi wa sallam hanya karena bertentangan dengan akal kita!
Ketiga:
Tidak akan pernah ada pertentangan antara dalil-dalil naqliyyah dan dalil-dalil ‘aqliyyah selamanya.
Oleh sebab itulah, maka kaum Salaf itu lebih berakal daripada kaum khalaf, maka sangat tidak tepat sekali apabila dikatakan bahwa kaum salaf itu “aslam” (menyerah saja), sedangkan kaum khalaf itu “ahkam wa a’lam” (lebih bijak dan lebih tahu). Karena kaum salaf memang tidak pernah mengatakan bahwa dalil-dalil naqliyyah yang berasal dari Al Qur’an dan Sunnah yang sah itu bertentangan dengan akal. Bahkan mereka (kaum salaf) mengatakan bahwa dalil-dalil naqliyyah selamanya akan selalu bersesuaian dengan dalil-dalil ‘aqliyyah. Akan tetapi yang menjadi pertanyaan adalah “apakah akal dapat mencerna semua yang datang dari dali-dalil naqliyyah tersebut?” Jawabannya pastilah tidak! Dan hal tersebut tidak berarti bahwa ketika akal kita tidak mampu mencerna sesuatu yang datang dari sebagian dalil-dalil naqliyyah (Al Qur’an dan Hadits) kemudian kita menganggap bahwa dalil naqliyyah tersebut bertentangan dengan akal kita, kemudian kita menolaknya. Sama sekali tidak demikian! Karena yang dimaksud dengan tunduknya akal itu kepada keputusan dalil-dalil naqliyyah dan tidak menentangnya, baik ketika akal itu dapat mencernanya atau tidak dapat mencernanya, karena memang tidak semua hal dapat dicerna oleh akal manusia.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahulloh, di kitabnya Ar-Raddu ‘alal manthiqiyyiin (halaman: 260):
“Bahkan segala sesuatu yang telah diketahui dengan akal yang sharih (tegas), maka tidak didapati dari Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam melainkan akal itu menyetujuinya dan membenarkannya”
Adapun perkataan yang sering di ucapkan oleh sebagian orang, bahwa ada beberapa dalil naqliyyah yang tidak masuk di akal!? Demikian juga diperbuat oleh mereka yang seringkali menolak Sunnah yang sah dengan dalih bahwa isi kandungannya tidak masuk di akal!? Maka sesungguhnya hal itu disebabkan oleh sikap mereka yang lebih mendahulukan akal daripada wahyu (dalil-dalil naqliyyah). Yang akibatnya akal mereka pun menjadi sakit dan goncang, sehingga hilanglah dari mereka kekuatan akal yang shahih (sehat) dan sharih (tegas).
Keempat:
Ada beberapa permasalahan berkenaan dengan dalil-dalil ‘aqliyyah (akal), yaitu:
Wallohu a’lam
“Tulisan ini diringkas dari Kitab Al-Masaa-il jilid ke-5 bab pertama tentang Qawaa-’idusy Syara’ (kaidah-kaidah agama) Karya Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat semoga Alloh menjaga beliau, dan saya beri tambahan seperlunya untuk memudahkan para pembaca”
Filed under: Islam , Dalil dan Akal
November 29, 2008 • 5:01 pm 0
Alhamdulillah, sore ini di antara teduhnya awan yang menaungi saya mencoba membuat tulisan ini, karena sebelumnya mungkin ada beberapa ganjalan di hati, Apakah selama ini saya adalah seorang yang benar dalam bermanhaj? dalam kata lain apakah selama ini saya telah menerapkan al ‘Ilmu Qoblal Qouli wal ‘Amal? Itu kalimat yang harus saya garisbawahi kemudian saya marking dengan spidol berwarna terang lalu saya tempel di dinding kamar saya.
Terkadang saya bertanya terhadap diri pribadi, seberapa besar manfa’at blog ini (biasajadah.wordpress.com) untuk orang lain yang membaca? Kemudian apakah saya menulis karena hanya ingin terlihat oleh orang lain? Apakah saya menulis hanya untuk mendapat pujian dari orang yang membaca melalui komentar? Atau ketika kita menulis sesuatu untuk memenangkan pendapat kita terhadap orang lain dengan menggadaikan Ayat-ayat Alloh dan Hadits sebebagai tameng berlapis emas? Itulah koreksi besar terhadap diri saya pribadi.. dan mungkin suatu saat, setelah saya menemukan jawaban untuk kemaslahatan (kebaikan) agama saya, the final conclusion just two.. “Tetap menulis sesuatu yang bermanfa’at atau saya mundur daripada harus menulis sesuatu yang tidak bermanfa’at”. Atau mungkin aku telah menyakiti saudaraku dengan ucapanku, mohon ma’af ya..
Selama ini saya masih menerapkan bahwa setiap pendapat manusia bisa diterima dan di tolak kecuali apa-apa yang datang dari Alloh dan Rasulnya Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam, karena pendapat yang datang dari perkataan seseorang bisa saja benar dan bisa saja salah (relatif) sedangkan setiap yang datang dari Alloh subhanahu wata’ala dan rasulnya Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam adalah al haq. Maaf saudaraku.. kita masih sama-sama menuntut ilmu. Apakah dengan menertawakan itu semua akan baik-baik saja? Lalu kamu berhasil finish di garis terdepan dengan meninggalkan saudaramu disini?
Filed under: Saya di blog ini, Unek-unek
November 22, 2008 • 11:08 pm 6
Bismillah, pada tulisan kali ini saya akan membahas mengenai “bagaimana sih caranya membuat tombol untuk web, blog dll. seperti gambar di atas?”
Saya mengambil contoh tombol yang terdapat pada IlmuGratisan.com, karena pada awalnya saya ingin membuat tulisan di sana, tetapi qodarulloh saya belum dapat meng upload file di sana.
Baiklah let’s begin..







Buatlah text dengan jenis huruf arial – bold, ukuran 30 pt, align center hingga hasil akhir seperti gambar berikut
Kalau ada pertanyaan, atau mungkin kurang jelas mengenai cara di atas mohon kirim email aja ya..November 21, 2008 • 10:14 pm 5
Kamu.. (kata ganti untuk nama seseorang) suara itu terdengar dari sebuah ruangan seorang menejer divisi. Ya.. ada apa Pak? jawab seorang karyawan yang merasa namanya di panggil, lantas karyawan tersebut menghampiri dan memasuki ruangan menejernya. Sang menejer berucap “saya ingin mendisain sesuatu, bisakah kamu bantu saya?” Karyawan tersebut berkata: ya.. akan saya coba.
Sambil memperhatikan sang menejernya ngutak ngatik mendisain sesuatu untuk presentasi, sang karyawan bertanya.. apa yang bisa saya bantu? “Saya ingin kamu ajari saya cara membuat seperti ini jawab sang menejer, sambil menunjuk ke arah laptop miliknya”. Sang karyawan berkata “baiklah, darimana saya bisa memulainya? tanya karyawan tersebut”. Menejer tersebut kemudian menjelaskan hal yang tidak dimengertinya kepada karyawan tersebut.
Berawal dari kisah tesebut, who’s got da skill? orang yang bergelar Professor? berdasi? duduk di depan komputer? atau mungkin orang yang duduk di dalam pemerintahan yang katanya membela aspirasi rakyat?
Kita semua tau bahwa “ga ada orang yang ahli dalam segala hal” begitu juga saya dan kamu! bahkan dalam kamus sejarah ulama terdahulu tidak ada kata malu untuk menuntut ilmu kepada yang lebih muda umurnya ataupun lebih junior. Ada dua hal yang menghambat seseorang untuk menuntut ilmu, yaitu kesombongan & malu. Ketika seseorang itu sombong, ia merasa dirinya lebih baik dari yang lain, sedangkan ketika seseorang itu malu maka sikap tersebut hanya akan menghambatnya untuk maju.
Pelajarilah semua yang bermanfa’at bagi dunia dan akhirat, karena ketika kita wafat yang kita bawa sebagai bekal hanya ilmu dan amal sholih. Banyak tau bukan berarti tau banyak, tau banyak juga tidak berarti banyak tau hehe..
Keinginan untuk maju terkadang berawal dari rasa ingin tahu mengenai sesuatu hal, terkadang berawal dari ketidak mampuan melakukan sesuatu hal, atau memang karena kita mau menjadi lebih baik.
Your friend,
Prasetyo Muchlas
Filed under: Saya di blog ini, Unek-unek
November 19, 2008 • 10:17 pm 7
Sesungguhnya ingin sekali hati ini bersuara, antara jeritan tangis dan tawa, antara duka berbalut suka. Jatuh dan bangun menempuh manhaj ini, Ash Shirath al Mustaqim, Al Islam.
Mungkin banyak dari kami dan kamu merasa terasing karena mengamalkan Islam secara kaffah (keseluruhan), mereka menuding dengan persangkaan yang tidak mempunyai dasar, melainkan hanya sekedar dzan (prasangka). Aku tidak menyalahkan siapa-siapa, karena memang telah menjadi sunnatulloh bahwa Islam berawal dari keterasingan kemudian akan kembali kepada keterasingan seperti yang telah Rasululloh Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam sabdakan :
Dari Abu Hurairah Radhiyallohu ‘Anhu ia berkata: “Rasululloh Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing, maka berungtunglah bagi orang-orang yang asing”. [Hadits Riwayat Imam Muslim 2/152 no. 232-(145)]
Ada satu pesan yang membuat saya terkesan, dan sadar bahwa inilah jalanku yang lurus. Ketika membaca sebuah buku yang ditulis oleh Ustadz Armen Halim Naro semoga Alloh merahmati dan mengampuni beliau, di dalam bukunya yang berjudul “Temui Aku di Telaga” tentang panduan dan motivasi berpegang teguh pada zaman keterasingan, beliau berkata “Kebahagian itu yang aku dan engkau sedang mencarinya ada pada istiqomah pada jalan kebenaran itu sendiri, itulah yang telah disebutkan oleh Alloh Subhanahu wata’ala bahwa orang yang beriman tidak ada takut dan kesedihan baginya, kemenangan bagi yang bertaqwa, yang berbahagia adalah yang mengerjakan penghambaan diri kepada Alloh”.
Begitu berharganya keberadaan seorang muslim yang hanif sehingga dalam suatu kisah Sufyan ats Tsauri rahimahulloh berkata kepada seseorang yang datang dari jauh: “Jika engaku bertemu dengan seorang ahlussunnah, sampaikan salamku! sesungguhnya ahlussunnah saat ini gharib (asing)”.
Sufyan ats Tsauri rahimahulloh hidup pada awal abad ke tiga, bagaimana dengan saat ini? mungkin sebagian dari cara memperoleh ke istiqomahan untuk hidup pada zaman ini adalah dengan mempelajari Islam (Al Qur’an & Sunnah) dengan pemahaman orang-orang yang telah Alloh ridhoi untuk kita ikuti pemahaman mereka yaitu pemahaman Sahabat rodhiyallohu ‘anhum jami’an, wal ladzinat taba’uhum bi ihsanin illa yaumiddin yaitu generasi setelah sahabat (tabi’in) kemudian setelahnya lagi (tabi’ut tabi’in) dan setiap orang yang mengikuti mereka para sabiqunal awwaluun (orang-orang yang pertama kali masuk Islam).
Semoga kita termasuk di dalamnya (orang yang di ridhoi Alloh) amin.
November 15, 2008 • 10:40 pm 4
Disain web yang bertema Aqua memang lagi nge-trend, ada efek kilap seperti pantulan air, kristal, warna yang bening/transparent. Entah saya yang terlambat mengetahui hal ini, atau memang terlalu awal untuk mengetahui (^,^). Tapi yang pasti saya telah berhasil menjawab tantangan seorang atasan saya di kantor, ia meminta saya mempelajari Aqua web style dengan Photoshop CS, contohnya itu gambar di atas.
Ada yang bilang belajar photoshop itu sulit, saya jawab “ya”, tapi jika kita belajar dengan teknik dan metode yang tepat insya Alloh bisa kok. Mungkin untuk waktu yang akan datang hal ini akan menjadi bagian dari pekerjaan saya disamping menjadi seorang drafter, contohnya seperti gambar di bawah ini :
Di atas adalah gambar template~touch screen panel, saya sedang dalam proses mengerjakan hal yang serupa dengan gambar di atas hanya saja mungkin akan saya buat lebih interaktif dan lebih terlihat effect nya terutama ketika tombolnya tersentuh, mungkin akan saya bedakan ketika button on dengan button off, ini juga permintaan dari atasan di tempat saya bekerja, untuk sedikit di modifikasi.
Nah.. contohnya gambar di atas yang telah saya modifikasi, tombol enternya saya beri efek warna biru dengan garis tepi (border) sedikit dipertebal, tombol enter tersebut akan di program berubah menjadi warna biru ketika button on (tersentuh) untuk membedakan antara button on dengan button off. Tapi saya disini hanya bertugas dalam visual style nya aja, sementara untuk mem program ada bagiannya sendiri
Filed under: Photoshop, Saya di blog ini , Aqua web style, Photoshop, web 2.0
November 14, 2008 • 5:54 am 1
I’ll never come back to SadTurday
We are make a change today and..
Till the end of time
Filed under: Uncategorized
November 12, 2008 • 9:37 pm 2
Oh tidak! aku dapet pekerjaan penghargaan
Baiklah terima kasih kepada saudari ku (ukhti fillah) Dalila Sadida yang berkenan memberikan penghargaan ini untuk aku lemparkan lagi hehe..
Selamat berdjoeang bagi teman-teman yang mendapat penghargaan ini, teruslah berkarya..
Dan yang beruntung adalah sebagai berikut :
rules:
1. put the logo on your blog
2. add a link to the person who awarded you
3. nominate at least 7 other blogs
4. add link to those blogs on yours
5. leave a message for your nominees on their blog
Alhamdulillah selesai.. ngantuk.. besok berangkat kerja pagi… Salam Perdjoeangan!
Filed under: Uncategorized
November 10, 2008 • 10:08 pm 6
Bismillah,
Ketika kita hendak mengartikan makna kehidupan, tentu setiap orang punya pandangan berbeda-beda. Ada yang mengartikannya “kehidupan untuk dinikmati”, ada juga yang beranggapan “kehidupan adalah sarana untuk mendekatkan diri dan beribadah kepada Alloh”. Dua sisi yang berbeda dan saling bertolak belakang, namun saya tidak membahasnya pada tulisan ini.
Berawal dari keluh kesah teman-teman seperjuangan, di antara mereka masih seperti saya yang sedang dalam perjuangan, ada juga yang udah berhasil di angkat menjadi karyawan tetap bahkan udah merasakan kehidupan di negeri sakura. Belajar banyak dari kehidupan orang lain, bahkan saya tidak peduli latar belakang pendidikan mereka, status sosial, apa-apa yang positif dan bermanfa’at itu bisa menjasi pelajaran yang berharga. Saya pernah berbicara mengenai banyak hal dengan seorang petugas keamanan, ketika itu dia menawari saya semangkuk mie instant, dan petugas keamanan tersebut bercerita bahwa terkadang ia hanya makan mie instant aja sehari-hari, agar nanti ketika pulang ke keluarganya bisa membawa uang yang cukup untuk makan keluarganya, bahkan petugas keamanan tersebut mengabaikan kesehatannya demi keluarga.
Kehidupan memang semakin berat, Status pekerja kontrak yang hanya seperti bingkai hiasan di dinding pameran lukisan (sewaktu-waktu dapat di copot). Jaman sekarang ijazah seperti harga uang recehan, hampir-hampir terabaikan. Hari ini aja ketika pulang kerja, di dalam bus ada dua pengamen wanita yang sebaya dengan saya menjual suara mereka dengan lantang
saya berfikir dimanakah kamu seharusnya? seperti tikaman keras sebilah pedang menancap lurus di dada ini, saya prihatin melihat mereka.
Oh iya ketika saya menerima tawaran bekerja sebagai drafter, saya masih ingat dengan jelas apa yang saya katakan kepada seseorang (interviewer) yang sekarang menjadi Technical Manager di tempat saya bekerja. Saya ketika itu berkata “Saya menerima pekerjaan ini, karena kesempatan (peluang) itu harus lebih diutamakan dari minat, potensi dan keinginan”. Itu adalah kutipan perkataan Bapak Romi Satria W. yang sangat melekat di dada saya, saya lumayan banyak belajar dari kisah beliau.
Minat, potensi & keinginan itu bisa ditumbuhkan, tetapi kesempatan itu jarang datang dua kali, maka camkan hal tersebut. Keadaan membuat kita sadar, bagaimana ini? mau jadi apa saya? bagaimana masa depan saya? kitalah yang dapat merubahnya.. dengan izin Alloh.
Merasa selama ini hanya menjadi beban bagi orang lain, Ketika merasa sangat letih & seolah tidak memiliki harapan, pikirkanlah apa yang bermanfaat untuk diri kita, bagaimana cara untuk memperoleh semangant itu kembali, belajar banyak hal dari kehidupan orang lain membuat kita semakin bersyukur & dan mengerti bahwa kita bukanlah beban bagi diri sendiri maupun orang lain jika kita mau berusaha untuk tetap berjuang.
Salam perdjoeangan.
Filed under: Unek-unek