Bismillah,
Ketika kita hendak mengartikan makna kehidupan, tentu setiap orang punya pandangan berbeda-beda. Ada yang mengartikannya “kehidupan untuk dinikmati”, ada juga yang beranggapan “kehidupan adalah sarana untuk mendekatkan diri dan beribadah kepada Alloh”. Dua sisi yang berbeda dan saling bertolak belakang, namun saya tidak membahasnya pada tulisan ini.
Berawal dari keluh kesah teman-teman seperjuangan, di antara mereka masih seperti saya yang sedang dalam perjuangan, ada juga yang udah berhasil di angkat menjadi karyawan tetap bahkan udah merasakan kehidupan di negeri sakura. Belajar banyak dari kehidupan orang lain, bahkan saya tidak peduli latar belakang pendidikan mereka, status sosial, apa-apa yang positif dan bermanfa’at itu bisa menjasi pelajaran yang berharga. Saya pernah berbicara mengenai banyak hal dengan seorang petugas keamanan, ketika itu dia menawari saya semangkuk mie instant, dan petugas keamanan tersebut bercerita bahwa terkadang ia hanya makan mie instant aja sehari-hari, agar nanti ketika pulang ke keluarganya bisa membawa uang yang cukup untuk makan keluarganya, bahkan petugas keamanan tersebut mengabaikan kesehatannya demi keluarga.
Kehidupan memang semakin berat, Status pekerja kontrak yang hanya seperti bingkai hiasan di dinding pameran lukisan (sewaktu-waktu dapat di copot). Jaman sekarang ijazah seperti harga uang recehan, hampir-hampir terabaikan. Hari ini aja ketika pulang kerja, di dalam bus ada dua pengamen wanita yang sebaya dengan saya menjual suara mereka dengan lantang
saya berfikir dimanakah kamu seharusnya? seperti tikaman keras sebilah pedang menancap lurus di dada ini, saya prihatin melihat mereka.
Oh iya ketika saya menerima tawaran bekerja sebagai drafter, saya masih ingat dengan jelas apa yang saya katakan kepada seseorang (interviewer) yang sekarang menjadi Technical Manager di tempat saya bekerja. Saya ketika itu berkata “Saya menerima pekerjaan ini, karena kesempatan (peluang) itu harus lebih diutamakan dari minat, potensi dan keinginan”. Itu adalah kutipan perkataan Bapak Romi Satria W. yang sangat melekat di dada saya, saya lumayan banyak belajar dari kisah beliau.
Minat, potensi & keinginan itu bisa ditumbuhkan, tetapi kesempatan itu jarang datang dua kali, maka camkan hal tersebut. Keadaan membuat kita sadar, bagaimana ini? mau jadi apa saya? bagaimana masa depan saya? kitalah yang dapat merubahnya.. dengan izin Alloh.
Merasa selama ini hanya menjadi beban bagi orang lain, Ketika merasa sangat letih & seolah tidak memiliki harapan, pikirkanlah apa yang bermanfaat untuk diri kita, bagaimana cara untuk memperoleh semangant itu kembali, belajar banyak hal dari kehidupan orang lain membuat kita semakin bersyukur & dan mengerti bahwa kita bukanlah beban bagi diri sendiri maupun orang lain jika kita mau berusaha untuk tetap berjuang.
Salam perdjoeangan.