Prasetyo Muchlas blog

Icon

Untuk Sahabat

Kisah Tentang ‘Abdullah bin Hudzafah as Sahmi Radhiyallohu ‘anhu

Khalifah ‘Umar bin al Khaththab berkata :

Sepatutnya setiap Muslim mencium kepala Ibnu Hudzafah.

Inilah salah satu contoh keteguhan dalam Islam. Telah berhasil membebaskan banyak tawanan, tanpa harus tunduk dan merendahkan Islam di depan musuh, tetapi justru kian nampak kemuliannya. Bagaimana kisahnya, sehingga ‘Abdullah bin Hudzafah as Sahmi radhiyallohu ‘anhu menyatakan harapannya memiliki nyawa sebanyak tarikan nafasnya? Kisah ini di angkat dari Siyar A’lamin Nubala, Adz Dzahabi, 2/14, 15.

Khalifah ‘Umar bin al Khaththab mengutus pasukan ke romawi. Dalam peperangan tersebut, pasukan romawi Read the rest of this entry »

Filed under: Islam , , , ,

Ghurbah (keterasingan)

Sesungguhnya ingin sekali hati ini bersuara, antara jeritan tangis dan tawa, antara duka berbalut suka. Jatuh dan bangun menempuh manhaj ini, Ash Shirath al Mustaqim, Al Islam.

Mungkin banyak dari kami dan kamu merasa terasing karena mengamalkan Islam secara kaffah (keseluruhan), mereka menuding dengan persangkaan yang tidak mempunyai dasar, melainkan hanya sekedar dzan (prasangka). Aku tidak menyalahkan siapa-siapa, karena memang telah menjadi sunnatulloh bahwa Islam berawal dari keterasingan kemudian akan kembali kepada keterasingan seperti yang telah Rasululloh Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam sabdakan :

Dari Abu Hurairah Radhiyallohu ‘Anhu ia berkata: “Rasululloh Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing, maka berungtunglah bagi orang-orang yang asing”. [Hadits Riwayat Imam Muslim 2/152 no. 232-(145)]

Ada satu pesan yang membuat saya terkesan, dan sadar bahwa inilah jalanku yang lurus. Ketika membaca sebuah buku yang ditulis oleh Ustadz Armen Halim Naro semoga Alloh merahmati dan mengampuni beliau, di dalam bukunya yang berjudul “Temui Aku di Telaga” tentang panduan dan motivasi berpegang teguh pada zaman keterasingan, beliau berkata “Kebahagian itu yang aku dan engkau sedang mencarinya ada pada istiqomah pada jalan kebenaran itu sendiri, itulah yang telah disebutkan oleh Alloh Subhanahu wata’ala bahwa orang yang beriman tidak ada takut dan kesedihan baginya, kemenangan bagi yang bertaqwa, yang berbahagia adalah yang mengerjakan penghambaan diri kepada Alloh”.

Begitu berharganya keberadaan seorang muslim yang hanif sehingga dalam suatu kisah Sufyan ats Tsauri rahimahulloh berkata kepada seseorang yang datang dari jauh: “Jika engaku bertemu dengan seorang ahlussunnah, sampaikan salamku! sesungguhnya ahlussunnah saat ini gharib (asing)”.

Sufyan ats Tsauri rahimahulloh hidup pada awal abad ke tiga, bagaimana dengan saat ini? mungkin sebagian dari cara memperoleh ke istiqomahan untuk hidup pada zaman ini adalah dengan mempelajari Islam (Al Qur’an & Sunnah) dengan pemahaman orang-orang yang telah Alloh ridhoi untuk kita ikuti pemahaman mereka yaitu pemahaman Sahabat rodhiyallohu ‘anhum jami’an, wal ladzinat taba’uhum bi ihsanin illa yaumiddin yaitu generasi setelah sahabat (tabi’in) kemudian setelahnya lagi (tabi’ut tabi’in) dan setiap orang yang mengikuti mereka para sabiqunal awwaluun (orang-orang yang pertama kali masuk Islam).

Semoga kita termasuk di dalamnya (orang yang di ridhoi Alloh) amin.

Filed under: Islam ,

Rukun Iman Menurut Al-Firqah An-Najiyah

RUKUN IMAN MENURUT AL-FIRQAH AN-NAJIYAH

Oleh
Syaikh Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthaniy

[1]. Iman Kepada Allah Ta’ala
Iman kepada Allah adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah adalah Rabb dan Raja segala sesuatu; Dialah Yang Mencipta, Yang Memberi Rezki, Yang Menghidupkan, dan Yang Mematikan, hanya Dia yang berhak diibadahi. Kepasrahan, kerendahan diri, ketundukan, dan segala jenis ibadah tidak boleh diberikan kepada selain-Nya; Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan, keagungan, dan kemuliaan; serta Dia bersih dari segala cacat dan kekurangan.[1]

[2]. Iman Kepada Para Malaikat Allah
Iman kepada malaikat adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah memiliki malaikat-malaikat, yang diciptakan dari cahaya. Mereka, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah, adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan. Apapun yang diperintahkan kepada mereka, mereka laksanakan. Mereka bertasbih siang dan malam tanpa berhenti. Mereka melaksanakan tugas masing-masing sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat mutawatir dari nash-nash Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Jadi, setiap gerakan di langit dan bumi, berasal dari para malaikat yang ditugasi di sana, sebagai pelaksanaan perintah Allah ‘Azza wa Jalla. Maka, wajib mengimani secara tafshil (terperinci), para malaikat yang namanya disebutkan oleh Allah, adapun yang belum disebutkan namanya, wajib mengimani mereka secara ijmal, ‘global’.[2]

[3]. Iman Kepada Kitab-kitab
Maksudnya adalah, meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa Allah memiliki kitab-kitab yang diturunkan-Nya kepada para nabi dan rasul-Nya; yang benar-benar merupakan Kalam, (firman, ucapan),-Nya. la adalah cahaya dan petunjuk. Apa yang dikandungnya adalah benar. Tidak ada yang mengetahui jumlahnya selain Allah. Wajib beriman secara ijmal, kecuali yang telah disebutkan namanya oleh Allah, maka wajib untuk mengimaninya secara tafshil, yaitu: Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an. Selain wajib mengimani bahwa Al-Qur’an diturunkan dari sisi Allah, wajib pula mengimani bahwa Allah telah mengucapkannya sebagaimana Dia telah mengucapkan seluruh kitab lain yang diturunkan. Wajib pula melaksanakan berbagai perintah dan kewajiban serta menjauhi berbagai larangan yang terdapat di dalamnya. Al-Qur’an merupakan tolak ukur kebenaran kitab-kitab terdahulu. Hanya Al-Qur’an saja yang dijaga oleh Allah dari pergantian dan perubahan. Al-Qur’an adalah Kalam Allah yang diturunkan, dan bukan makhluk, yang berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.[3]

[4]. Iman Kepada Para Rasul
Iman kepada rasul-rasul adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah telah mengutus para rasul untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya. Kebijaksanaan-Nya telah menetapkan bahwa Dia mengutus para rasul itu kepada manusia untuk memberi kabar gembira dan ancaman kepada mereka. Maka, wajib beriman kepada semua rasul secara ijmal (global) sebagaimana wajib pula beriman secara tafshil (rinci) kepada siapa di antara mereka yang disebut namanya oleh Allah, yaitu 25 di antara mereka yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Wajib pula beriman bahwa Allah telah mengutus rasul-rasul dan nabi-nabi selain mereka, yang jumlahnya tidak diketahui oleh selain Allah, dan tidak ada yang mengetahui nama-nama mereka selain Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Wajib pula beriman bahwa Muhammad Shallallohu ‘Alaihi wa Sallam. adalah yang paling mulia dan penutup para nabi dan rasul, risalahnya meliputi bangsa jin dan manusia, serta tidak ada nabi setelahnya.[4]

[5]. Iman Kepada Kebangkitan Setelah Mati
Iman kepada kebangkitan setelah mati adalah keyakinan yang kuat tentang adanya negeri akhirat. Di negeri itu Allah akan membalas kebaikan orang-orang yang berbuat baik dan kejahatan orang-orang yang berbuat jahat. Allah mengampuni dosa apapun selain syirik, jika Dia menghendaki. Pengertian al-ba’ts, (kebangkitan) menurut syar’i adalah dipulihkannya badan dan dimasukkannya kembali nyawa ke dalamnya, sehingga manusia keluar dari kubur seperti belalang-belalang yang bertebaran dalam keadaan hidup dan bersegera mendatangi penyeru. Kita memohon ampunan dan kesejahteraan kepada Allah, baik di dunia maupun di akhirat.[5]

[6]. Iman Kepada Takdir Yang Baik Maupun Yang Buruk Dari Allah Ta’ala.
Iman kepada takdir adalah meyakini secara sungguh-sungguh bahwa segala kebaikan dan keburukan itu terjadi karena takdir Allah. Allah Subhanallahu wa Ta’ala telah mengetahui kadar dan waktu terjadinya segala sesuatu sejak zaman azali, sebelum menciptakan dan mengadakannya dengan kekuasaan dan kehendak-Nya, sesuai dengan apa yang telah diketahui-Nya itu. Allah telah menulisnya pula di Lauh Mahfuzh sebelum menciptakannya.[6]

Banyak sekali dalil mengenai keenam rukun Iman ini, baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala :

“Artinya : Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, Malaikat-malaikat, dan Nabi-nabi…”[Al-Baqarah : 177]

“Artinya : Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut qadar (ukuran).”[Al-Qamar : 49]

Juga sabda Nabi Sallallahu ‘alaihi wassalam dalam hadits Jibril :

“Artinya : Hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, dan hari akhir. Dan engkau beriman kepada takdir Allah, yang baik maupun yang buruk.”[7]

[Disalin dari kitab Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah Li Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah, Penulis Sa'id bin Ali bin Wahf Al-Qathaniy, Edisi Indonesia Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Penerjemah Hawin Murtadho, Penerbit At-Tibyan]
_________
Foot Note.
[1]. Ar-Raudah An-Nadiyyah Syarh Al-Aqidah Al-Washithiyah, hal. 15; Al-Ajwibah Al-Ushuliyyah, hal. 16; dan At-Thahawiyah, hal. 335. Iman kepada Allah Ta’ala meliputi empat perkara : (1). Iman kepada wujud-Nya Yang Maha Suci. (2). Iman kepada Rububiyyah-Nya.(3). Iman kepada Uluhiyyah-Nya.(4). Iman kepada Asma dan sifat-sifat-Nya.
[2]. Ar-Raudhah An-Nadiyyah, hal. 16 dan Al-Aqidah At-Thahawiyyah, hal. 350.
[3]. Al-Ajwibah Al-Ushuliyah, hal. 16 dan 17.
[4]. Lihat Al-Kawasyif Al-Jaliyah An Ma’ani Al-Wasithiyah, hal 66.
[5]. Ibid
[6]. Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Muhammad Khalil Al-Haras, hal. 19.
[7]. Dikeluarkan oleh Muslim, I/37 no.8

Sumber: almanhaj.or.id (kategori Aqidah Al-Wasithiyah)

Filed under: Islam , ,

Jika tak Dapat Ku Hapus Hitamku, Lantas Bagaimana?

- Kan kubalut hitamku dengan putih

“Itu sama aja menyembunyikan kesalahan, dan berlagak orang suci”

- Lantas bagaimana?

“Kamu hanya membalutnya (menutupi), kesalahan demi kesalahan yang kita lakukan hanya tertutupi sebentar dengan balutan kain putih. Setelah itu hitam kan kembali tergores. Sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang bertaubat, menyadari perbuatannya itu adalah kesalahan dan berniat dengan sungguh-sungguh dengan tekad yang kuat serta memohon petunjuk dan pertolongan kepada Alloh untuk menjauhi serta berhenti dari kesalahan yang pernah dilakukan.”

“Sesungguhnya Alloh maha pengampun lagi maha penyayang”

Filed under: Unek-unek ,